Opini
Rudy Joseph Pesik, CEO DHL Indonesia (Ist)

JAKARTA- Akhirnya pemimpin legendaris Timor Leste, Xanana Gusmao sadar juga, mengapa Australia terdepan mendukung Timor-timur lepas, merdeka dari republik Indonesia pada tahun 1999. Mereka hanya ingin mengambil alih Celah Laut Timor (Timor Gap) yang berisi kandungan migas senilai $50 Miliar. Sekarang giliran mereka berjuang melawan cengkraman Australia. Hal ini disampaikan oleh Rudy Pesik, 78 tahun, seorang konglomerat berdarah Minahasa kepada Bergelora.com dalam sebuah pertemuan di sebuah gerai kopi miliknya ‘Kopi Kamu’ di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Belakangan ini, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) mengambil sikap tegas terhadap Australia yang terus mengklaim Celah Laut Timor. Xanana Gusmao yang ditugaskan oleh pemerintah sebagai Timor's chief negotiator memblejeti kepentingan Australia berkolusi dengan perusahaan minyak untuk menyalurkan minyak dan gas Greater Sunrise ke Darwin, bukan ke Timor. Xanana juga menuding tim konsiliasi PBB terlibat mendukung Australia dan merugikan Timor Leste.

“Saya sudah sampaikan pada Xanana dan Ramos Horta, jauh sebelum mereka Merdeka, agar jangan percaya pada dukungan Australia. Kepentingan mereka hanya untuk merebut Celah Timor,” Rudy Pesik membuka kembali lembaran perjalanan hidupnya.

Presiden Soeharto, pernah menugaskan dirinya untuk bicara dengan para pemimpin negara Amerika Latin untuk menjelaskan asal-usul Timor-Timur bersatu dengan Republik Indonesia pada awalnya.

“Saat itu, dukungan Internasional terhadap kemerdekaan Timor-Timur telah masuk mendominasi PBB. Diplomat Indonesia sudah tidak mampu menjawab berbagai tuduhan negatif terhadap Indonesia. Semua pada pegang ‘telor’ gak berani menjelaskan di forum-forum Internasional,” jelas Rudy Pesik.

“Kamu pikir dari mana usul agar, Indonesia masuk ke Timor-Timur? Itu Australia yang dorong Amerika dan Eropa pada tahun 70-an. Kata mereka Timor-Timur bakal jadi Kuba di Asia Tenggara, karena Fretellin itu Komunis,” terang Rudy.

Karena perang dingin sangat kuat, Amerika Serikat langsung menekan Presiden Soeharto untuk segera bertindak atas Timor-Timur yang barusan ditinggalkan Portugis.

Pada masa kejayaan Pertamina di tahun 70 dan 80-an, Pemerintahan RI saat itu sedang mengembangkan industri migas dan bersiap untuk mengelola Celah Timor. Australia tidak berhasil melobby Indonesia untuk mendapatkan konsesi Timor Gap.

“Eeeeh, pada tahun 90-an, Australia mulai mendorong agar Timor-Timur lepas dari Indonesia. Mereka teriak soal Hak Azasi manusia di dunia Internasional,” ujarnya.

Rudy Pesik sudah menjadi andalan pemerintah RI dalam urusan lobby internasional. Tugas dari Presiden Soeharto ke Amerika Latin dianggapnya adalah untuk membela nama baik Republik Indonesia dari tuduhan pelanggar HAM.

“Pada Ramos Horta pun saya sudah bilang. Kita diadu domba oleh Australia dan Amerika. Kita bisa selesaikan sendiri masalah kita. Tapi Ramos Horta pilih untuk merdeka,” papar Rudy.

Seorang Senator Amerika berdarah Afrika menjelaskan pada forum-forum PBB memaparkan sejarah dan ras bangsa Timor-Timur yang berbeda dengan Indonesia. Tujuannya untuk meyakinkan bahwa Timor-Timur memang harus merdeka.

“Saya bilang padanya,--Indonesia bersatu karena perbedaan-perbedaan itu. Dulu Kolombus mencari pulau Maluku untuk mencari rempah-rempah buat Eropah. Dia kira Amerika adalah Maluku. Maka perbudakan dimulai dengan membawa nenek moyangmu dari Afrika menjadi budak di Amerika. Sekarang generasimu sebagai bangsa Amerika yang menikmati kebebasan di Amerika. Sama dengan di Indonesia yang terdiri dari berbagai ras dan suku. Kami juga sedang membangun kebebasan dan kesejahteraan itu pada semua suku dan ras yang menjadi bangsa Indonesia. Kenapa sekarang kamu ganggu?” kata Rudy pada Senator itu.

Menurut Rudy Pesik, diplomasi yang sedang dijalankannya sudah agak terlambat. Setelah Soeharto turun dari kekuasaan pada 21 Mei 1998. Gerakan Internasional mendukung kemerdekaan Timor-Timur menguat. Presiden Habibie yang menggantikan Soeharto didesak untuk segera menyetujui Referendum untuk Timor-Timur. Akhirnya jejak pendapat dibawah kekuasaan PBB di Timor-Timur memenangkan pilihan merdeka untuk Timor-Timur.

Rudy Pesik hanya menyesali, begitu mudah bangsa besar seperti Indonesia menjadi alat kepentingan Internasional dengan mengorbankan nyawa orang-orang tidak berdosa. Hal ini menurutnya disebabkan kelemahan politik luar negeri Indonesia sendiri.

“Berbeda asal usul para diplomat antara sebelum kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan, para diplomat adalah para pejuang kemerdekaan. Tujuannya hanya satu: Indonesia merdeka. Setelah kemerdekaan, para diplomat diisi para pencari kerja dan karir. Mereka menikmati kehidupan diplomat di luar negeri. Tapi sudah lah,” demikian kesimpulan Rudy.

Tentang Timor-Timur yang saat ini menjadi Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) Rudy berpesan agar para pemimpin Timor Leste bisa berdaulat atas kepentingan Australia.

“Celah Timor itu milik rakyat Timor Leste. Mereka harus bisa mengelolanya untuk mensejahterahkan rakyat Timor Leste,” ujarnya.

Ia  berharap dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi, Indonesia bisa mengembalikan kejayaan politik luar negeri di masa Bung Karno.

Saat ini Rudy sedang menuliskan perjalanan hidupnya yang pernah menjadi bagian dari pemerintahan Soekarno, Soeharto dan Habibie. Ia juga berhasil membangun berbagai bisnis yang berkembang di dalam maupun di luar negeri. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh