Opini
Pedagang kaki lima memadati Tanah Abang. (Ist)

Pemerintah Daerah sepertinya selalu kesulitan mengatur para pedagang kaki lima. Netizen dan pelaku ekonomi, Erizeli Jely Bandaro menulis pengalamannya di China dan menuliskannya di akun facebooknya. Bergelora.com memuatnya agar menjadi pelajaran. (Redaksi)

Oleh: Erizeli Jely Bandaro

SATU waktu saya sedang menuju restoran di kawasan Dongmen, Shenzhen bersama teman. Kebetulan teman ini pegawai Pemda. Ketika kami sampai di Restoran, ada pedagang kaki lima dengan kereta dorongnya sedang di interogasi oleh petugas. Tak berapa lama, kereta dorongnya dimasukan kedalam truk sampah dan pedagang kaki lima itu dibiarkan pergi begitu saja. Kejadian itu saya amati dengan serius. Teman saya tersenyum memperhatikan saya.

”Mengapa dilarang dagang? Itukan hanya kereta dorong. Tidak permanen?” tanya saya.

“Dia berdagang di trotoar. Trotoar itu milik rakyat banyak. Bukan milik orang perorang. Pemda mendapatkan pajak dari rakyat untuk membangun jalan termasuk trotoar dan Pemda harus amanah menjaga trotoar itu agar dipergunakan sebagai mana fungsinya. Setiap hari sebelum orang beraktifitas, trotoar itu dibersihkan agar orang nyaman jalan.”

“Tetapi, pedagang kakilima itu kan orang lemah. Memberi ruang kepada mereka cari makan, kan engga salah. Seharusnya pemda bersikap adilah kepada orang lemah”

“Justru dengan melarang mereka berdagang di trotoar, itu sikap adil Pemda kepada rakyat.  Kamu bayangkan, tanah trotoar itu berada di lahan termahal di kota ini.  Kalau pedagang kaki lima menguasai 2 meter saja itu sama nilanya dengan harga kios di pasar modern. Bagaimana mungkin pemda berikan izin hanya karena alasan keadilan. Sementara orang lain berjuang dengan cara menabung agar dapat berdagang di kios ”

“Oh gitu ? Kata saya maklum.

“Dan lagi, Pemda sudah sediakan pasar rakyat yang dirancang modern. Mereka tidak harus membeli kios itu. Cukup mereka membayar sewa. Kalau omzet mereka tidak bisa menutupi biaya sewa, Pemda bailout kerugiannya. Artinya ketika Pemda memberikan izin mereka berdagang di pasar yang ditentukan, Pemda juga membina mereka dengan memastikan mereka tidak rugi. Tentu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Artinya mereka pastikan berdagang dengan rajin. Buka dan tutup kios tepat waktu dan tetap buka di hari libur. Punya modal untuk berdagang atau punya sponsor yang akan menyediakan barang dagangan.”

“Wah hebat sekali kebijakannya. Berapa pemda keluar uang untuk bailout kerugian mereka ?” Tanya saya.

“Mau tahu?”

“Ya”

“Tidak pernah Pemda bailout. Karena memang mereka tidak pernah rugi"

“Mengapa ?

“Itu memungkinkan karena kebijakan yang konsisten, dengan melarang pedagang kaki lima ada. Jadi konsumen terfokus belanja ditempat yang ditentukan. Dengan begitu, pemda juga bisa mengangkat orang kecil untuk memastikan hidupnya berubah menjadi lebih baik dan menjadi inspirasi bagi yang lain untuk bangkit juga."

“Tapi kenapa masih ada pedagang kaki lima seperti tadi itu?

“Pasti ada saja. Tapi engga banyak dan tidak pernah bisa  bertahan lama. Pasti akan kena jerat hukum. Sekali ketangkap dilepas setelah petugas memberikan pencerahan bagaimana seharusnya mereka dagang di kota besar. Tapi kalau ketangkap lagi, itu akan di hukum kerja paksa. Hanya dengan kerja paksa bisa mengubah mental mereka menjadi lebih baik.  Dan siap bersaing dengan yang lain sesuai dengan aturan yang ada. Aturan adalah edukasi mengubah masyarakat menjadi lebih baik.”

“Umumnya mereka pendatang dari kampung yang berusaha ingin cepat sukses di kota. Mereka lupa hakikat kota besar itu adalah berkompetisi. Tidak boleh ada orang yang dengan gampang sukses tapi melanggar aturan. Semua orang mengikuti proses sesuai dengan aturan yang ada. Kalau engga sanggup ikuti aturan , mereka bisa kembali ke desa.”

Saya tercerahkan. Sangat sederhana cara China mengelola peradaban.  Dengan cara begitu,  orang kota tidak merasa rugi bayar pajak, karena Gubernur nya bisa mejaga amanah setiap sen uang pajak rakyat tanpa terjebak dengan program populis atas nama rakyat lemah. Semua rasional.

Add comment

Security code
Refresh