Politik
Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2) di Indonesia sebelum ditutup16 Oktober 2009, (Ist)

JAKARTA - Sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negari China menggemparkan banyak negara. Bahkan pernyataan tersebut membawa serta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diminta untuk bertindak. Di tengah konflik antaran China vs Amerika Serikat (AS) yang kian meruncing, Tiongkok buka suara mengenai fakta pangkalan militer AS diberbagai negara. China pun terang-terangan meminta PBB untuk segera bertindak terhadap apa yang dilakukan oleh militer AS tersebut. 

Juru Bicara Kemenlu China, Wang Wenbin pada Selasa (4/8/2020) lalu meminta penjelasan mengenai kegiatan rahasia militer AS yang berhubungan dengan senjata biologis di berbagai negara. Hal tersebut mengacu pada Konvensi Senjata Biologis (BWC) di yang tepat berada di bawah PBB.

Apa yang diungkapkan oleh China ini bukan hal baru di Indonesia. Pada saat Indonesia diserang wabah Flu Burung, terungkap keberadaan Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2) di Indonesia, yang berdiri sejak 1967 diawal Orde Baru bekuasa. Namun, sejak 16 Oktober 2009, Namru-2 sudah tidak beroperasi lagi ditutup oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Protes Korea Selatan

Kepada Bergelora.com dilaporkan, tak hanya China, Korea Selatan pun lebih dulu mengawali protes terhadap kegiatan terselubung militer AS tersebut.

Bahan negeri gingseng telah bertindak dengan melakukan protes lokal untuk menuntut penutupan laboratorium militer dan pangkalan militer di wilayah Korea Selatan oleh militer AS.

Media lokal di Korea Selatan pun menyoroti kegiatan dari militer AS tersebut.

Oleh protes yang dimulai dari Korea Selatan itu akhirnya Wang buka suara dan meminta penjelasan dari pihak Donald Trump.

"Amerika Serikat harus mengatasi keprihatinan internasional, memegang sikap transparan dan bertanggungjawab, dan menjelaskan kegiatan militernya di seluruh dunia," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin, Selasa (4/8), seperti dikutip Global Times.

Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2) di Indonesia yang berlokasi di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, kurang dari 8 kilometer dari Istana Negara, sebelum ditutup16 Oktober 2009, (Ist)

Wang menambahkan kegiatan militer AS semacam ini dilakukan dibanyak negara dan telah memicu kerugian luas bagi negara-negara tersebut.

Bahkan menurut Wang, kegiatan tersebut bisa saja menjadi pemicu kejadian berbahaya.

"Apa yang mereka lakukan tidak transparan, berbahaya, dan tidak masuk akal," ujarnya.

Meski negaranya dituding menjadi penyebab menyebarnya virus corona hingga menjadi pandemi seperti saat ini, Wang tetap menuding AS yang lebih membahayakan mengenai Bio Militer tersebut.

Menurut Wang, AS, negara yang paling banyak melakukan kegiatan bio militer di dunia, tidak mengungkapkan aktivitasnya dalam materi yang mereka sampaikan kepada PBB.

Negara-negara penerima tidak tahu apa yang laboratorium militer AS lakukan.

"Aktivitas ini berbahaya karena banyak kegiatan bio terkait dengan patogen berisiko tinggi. Ini akan menjadi bencana bagi negara penerima, negara tetangga, atau bahkan seluruh dunia jika kecelakaan terjadi," ungkap Wang.

Wang menyebutkan, AS adalah satu-satunya negara yang membangun laboratorium militer di seluruh dunia, dan mengumpulkan bahan-bahan biologis serta sumber daya di luar negaranya.

"Amerika Serikat juga satu-satunya negara yang menghalangi negosiasi untuk protokol yang mencakup rezim verifikasi untuk BWC," imbuh Wang.

Penutupan Namru-2 Di Indonesia

Sebelumnya, di Indonesia Amerika Serikat memiliki Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2) di Indonesia, yang berdiri sejak 1967 diawal Orde Baru bekuasa. Namun, sejak 16 Oktober 2009, Namru-2 sudah tidak beroperasi lagi.

Laboratorium yang terungkap saat wabah flu burung ini di tutup oleh Menteri Kesehatan RI saat itu, Siti Fadilah Supari.

"Surat resmi penghentian kerjasama dengan Namru resmi dilayangkan dubes AS di Indonesia tanggal 16 Oktober kemarin. Jadi perjanjian yang diawali 16 Januari 1970 sudah resmi berakhir 16 Oktober kemarin," ujar mantan Menkes Siti Fadilah Supari kepada wartawan di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2009 lalu.

Siti Fadilah mengatakan keberadaan Namru-2 mengganggu kedaulatan Indonesia. Sebab, pusat penelitian itu meneliti virus yang dilakukan Angkatan Laut AS.

"Saya tidak akan rela kalau di wilayah yang berdaulat ini ada penelitian tapi ada militernya, tapi kok tidak jelas. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi," harapnya.

Oleh karena itu Siti Fadilah berharap pada penerusnya, Endang Rahayu Edyaningsih, agar tidak membuka lagi Namru-2. Dia yakin Endang bisa melanjutkan kebijakannya tersebut.

"Saya kira Ibu Endang bisa mengikuti langkah-langkah yang telah kita ambil pada periode ini, di mana Namru sudah secara resmi ditutup, dan saya mohon jangan dibuka lagi," katanya.

Meski begitu, Siti mengaku Endang merupakan orang yang cerdas dan punya pengalaman di dunia kesehatan masyarakat. Dia yakin Endang mampu meneruskan program kesehatan yang bersifat nasionalis sebagaimana telah di lakukan.

"Dan ini sangat penting. Mudah-mudahan kita bisa lanjutkan hubungan yang setara dengan Amerika, tetapi tidak libatkan militer seperti yang kita setujui bersama dengan Menkes Amerika," imbuh Siti.

Keberadaan Namru-2 sempat menjadi kontroversi. Namru-2 pertama kali berada di Indonesia pada tahun 1970 untuk meneliti virus-virus penyakit menular bagi kepentingan Angkatan Laut AS dan Departemen Pertahanan AS. Kontrak Namru-2, unit riset virus milik Angkatan Laut AS, dengan RI sudah habis sejak Januari 2000.

Namun pada praktiknya masih berlangsung kegiatan penelitian hingga 2005. Kemudian Menkes Siti Fadilah Supari langsung menghentikannya. Dia melarang seluruh rumah sakit mengirimkan sampel ke Namru-2 untuk diteliti. Banyak pihak mencurigai keberadaan Namru menjadi sarana kegiatan intelijen AS dengan berkedok riset. (Web Warouw)

 

Add comment

Security code
Refresh