Hukum
Buronan Djoko Tjandra. (Ist)

JAKARTA- Keterlibatan seorang oknum perwira polisi dalam penyelundupan Djoko Tjandra mencoreng instansi Kepolisian RI yang cukup serius. Karena ini menyangkut lembaga penegakan hukum yang seharusnya bersih dan tidak digunakan untuk melindungi kriminal. Untuk itu masyarakat meminta agar Presiden Jokowi untuk bertindak tegas terhadap semua yang terlibat. DPR-RI juga diminta segera membentuk Panitia Khusus yang membongkar setiap orang yang terlibat dibalik penyelundupan buronan tersebut.

“Sobat, kita tunggu sikap tegas Presiden Jokowi terkait skandal penyelundupan Djoko Tjandra. Setidaknya ada empat lembaga pemerintahan dibawah Presiden Jokowi yang diduga terkait skandal tersebut yaitu Kemendagri (Dukcapil urus E-KTP), Kemenkumham (Imigrasi), Polri & Kejaksaan Agung,” ujar Haris Rusli Moti dalam akun twitternya @motizenchannel beberapa waktu lalu dan dikutip Bergelora.com di Jakarta, Jumat (17/7).

Sebelumnya, Haris Rusli Moti juga mendesak agar DPR-RI tidak berdiam diri dan segera membentuk Pansus untuk membongkar kasus ini.

“Sobat, kami desak Komisi III DPR-RI untuk segera bentuk Panitia Khusus (Pansus) DPR-RI yang memeriksa Penyelundupan Djoko Tjandra,” demikian tegas Haris Rusli Moti,” tegasnya.

Haris Rusli Moti menegaskan bahwa kasus penyelundupan buronan Djoko Tjandra ini menghina kehormatan bangsa Indonesia.

“Banyak pejabat di sejumlah instansi negara buru-buru pakai handsanitaizer, bersihin tangan mereka dari skandal penyelundupan Djoko Tjandra. Kasus ini menghina kehormatan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa kasus penyelundupan Djoko Tjandra meninggalkan bau busuk yang menempel di sekujuru tubuh pejabat dan lembaga pemerintahan.

“Sobat, Djoko Tjandra jika diibaratkan, persis penyedot kotoran WC. Nyelinap lewat sambil semprotin kotoran ke muka sejumlah pejabat di berbagai instansi pemerintah. Pergi tinggalkan kotoran bau busuk yang nempel di sekujur tubuh pejabat dan instansi pemerintah,” tegasnya.

.

Buron

Kasus Djoko Tjandra kembali menyeruak ke publik setelah ditemukan jejak buron itu pada 8 Juni 2020. Djoko Tjandra diketahui merupakan buronan kasus pengalihan hak tagih utang Bank Bali. Djoko dinilai bisa bebas keluar masuk Indonesia meski statusnya buron.

Direktur PT Era Giat Prima itu dijerat dakwaan berlapis oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ridwan Moekiat. Di dakwaan primer, Djoko didakwa telah melakukan tindak pidana korupsi berkaitan dengan pencairan tagihan Bank Bali melalui cessie yang merugikan negara Rp 940 miliar.

Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman terhadap Djoko dan mantan Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin, masing-masing dengan pidana penjara selama dua tahun pada 2009. Mereka terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam perkara pengalihan hak tagih piutang (cessie) Bank Bali.

Akan tetapi, Djoko kabur ke Papua Nugini sebelum dieksekusi. Dia menjadi warga negara Papua Nugini pada 2012.

Membuat KTP Dalam Setengah Jam

Sebanyak 4 orang salah satunya Djoko Tjandra datang ke kantor kelurahan Grogol Selatan, Jakarta Selatan pada Senin (8/6/2020) pukul 08.00 WIB. Djoko ditemani sopir dan kuasa hukumnya, Anita Kolopaking, datang ke sana untuk membuat kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el).

Begitu tiba, Anita langsung menghubungi Lurah Grogol Selatan Asep Subahan. Asep pun keluar dari ruangan kerjanya di lantai dua menuju lobi. Tiga hari sebelumnya, dengan membawa surat kuasa dari Joko Tjandra, Anita sudah menemui Asep untuk menanyakan data dan status kependudukan kliennya.

Jadi Senin pagi itu, Djoko Tjandra tinggal datang ke kelurahan untuk merekam data KTP-el. Foto wajah Djoko, sidik jari, dan tanda tangan diambil dengan cukup singkat. Seluruh proses pembuatan KTP-el hanya berlangsung sekitar 30 menit. Lurah Asep dan petugas di kelurahan tak menyadari bahwa yang mereka layani adalah buronan yang sedang diburu Kejaksaan Agung.

”Tidak ada yang tahu (bahwa Djoko Tjandra buron). Karena di sistem kami juga tidak ada penandanya, misalnya ada tanda alert (waspada),” kata Asep seperti diberitakan media sebelumnya.

Meski Asep menyangkal mengistimewakan Djoko, tapi menurut warga setempat, proses mereka mengurus KTP-el di Kelurahan Grogol Selatan biasanya memakan waktu sebulan.

Surat Jalan Bareskrim

Djoko Tjandra mengajukan pembuatan paspor 22 Juni dan paspor terbit pada 23 Juni. Djoko hadir di Kantor Imigrasi Jakarta Utara, tapi saat paspor terbit orang lain yang mengambilnya. Dia membawa surat kuasa dari Djoko. Proses pembuatan paspor berjalan mulus karena petugas tak mengenali wajah Joko. Status Joko sebagai buronan pun tak tercatat di sistem.

Selain itu, Joko memenuhi semua persyaratan, seperti dokumen KTP elektronik dan paspor lamanya, periode 2007-2012. Meski demikian, berdasarkan penelusuran imigrasi, terungkap Djoko belum pernah menggunakan paspor itu. Demikian pula pada 2009, saat Djoko kabur sehari sebelum putusan Mahkamah Agung yang memvonisnya bersalah, paspor lama tidak digunakan.

Surat jalan Djoko diterbitkan atas inisiatif Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Bareskrim Polri, Brigjen (Pol) Prasetijo Utomo. Kini Prasetijo telah dicopot dari jabatannya. Dia dicopot dari jabatannya melalui surat telegram Kapolri bernomor ST/1980/VII/KEP./2020 tertanggal 15 Juli 2020. Dalam surat itu, Prasetijo dimutasi sebagai perwira tinggi (pati) Yanma Mabes Polri.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Argo Yuwono mengatakan, surat jalan seperti yang terbit untuk buron Djoko Tjandra seharusnya hanya digunakan untuk anggota kepolisian. Argo mengatakan surat tersebut seharusnya diperuntukkan bagi keperluan dinas keluar kota.

Dari data yang diperoleh Indonesia Police Watch (IPW), surat bernomor SJ/82/VI/2020/Rokorwas tertanggal 18 Juni 2020 tersebut ditandatangani oleh Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Bareskrim Polri Brigjen Prasetijo Utomo.

Dalam dokumen surat jalan, tertulis Joko Soegiarto Tjandra sebagai konsultan. Di sana Djoko Tjandra disebut melakukan perjalanan dari Jakarta ke Pontianak dengan pesawat terbang untuk keperluan konsultasi dan koordinasi. Ditulis juga bahwa dia berangkat pada 19 Juni 2020 dan kembali pada 22 Juni 2020. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh