Hukum
Surya Anta Dijerat Pasal Makar Jubir Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) Surya Anta. (Ist).

JAKARTA- Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono menyebut delapan tersangka pengibaran bendera bintang kejora di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, saat ini dijerat pasal makar.

Salah satu tersangka adalah Jubir Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) Surya Anta.

"Intinya ada kaitannya dengan keamanan negara ada pasal yang ada di KUHP ada pasal 106 dan 110," ujarnya di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Minggu (1/9).

Pasal 106 berbunyi, Makar dengan maksud supaya seluruh atau sebagian wilayah negara jatuh ke tangan musuh atau memisahkan sebagian wilayah negara dari yang lain, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun.

Sedangkan Pasal 110 berbunyi, Permufakatan jahat untuk melakukan kejahatan menurut pasal 104, 106, 107, dan 108 diancam berdasarkan ancaman pidana dalam pasal-pasal tersebut.

Lebih lanjut Argo mengatakan pihak penyidik masih melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut dan memeriksa sejumlah orang yang diamankan.

Saat ini, para tersangka dalam proses pemeriksaan lebih lanjut di tempat yang berbeda. Ia belum membeberkan di mana tersangka akan ditahan nantinya.

"Enggak di Polda saja, di Polsek pun bisa, di Polres bisa, di Mako Brimob bisa," imbuh Argo.

Surya dikabarkan telah diamankan polisi pada Sabtu (31/8) malam. Setelah sempat dibawa ke Mapolda Metro Jaya, ia diperiksa lebih lanjut di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.

Selain itu, pada Jumat (30/8) malam polisi juga menangkap dua mahasiswa dari Asrama Lanijaya, Depok, yaitu Anes Tabuni dan Charles Kossay, atas dugaan yang sama dan dijerat oleh pasal makar (Pasal 106 juncto pasal 87 dan atau pasal 110 KUHP).

Kronologi Penangkapan Surya Anta

Tim pengacara Jubir Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) Surya Anta membenarkan bahwa kliennya ditangkap oleh polisi di pusat perbelanjaan di Jakarta pada Sabtu (31/8) malam. Surya ditangkap atas tuduhan makar.

Surya menjadi satu dari delapan orang lainnya yang ditangkap. Saat ini, Surya masih menjalani pemeriksaan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

"Saat penangkapan, polisi menjelaskan pasal yang disangkakan adalah makar terkait Papua," demikian tertulis dalam siaran pers yang diterima Bergelora.com di Jakarta, Minggu (1/9)

Berdasarkan keterangan tersebut, delapan orang yang juga ditangkap termasuk Surya, yakni Carles Kossay, Dano Tabuni, Ambrosius Mulait, Isay Wenda, Naliana Wasiangge, Ariana Lokbere, dan Norince Kogoya.

Salah satu anggota tim pengacara, Tigor Hutapea mengatakan bahwa dua dari delapan orang tersebut saat ini telah ditahan. Sementara, tersangka lainnya masih menjalani pemeriksaan.

"Carles Kossay dan Dano Tabuni sudah dilakukan penahanan, sisanya masih pemeriksaan. Pasal yang dikenakan pasal 106, 110, dan 87 KUHP tentang Makar," ujarnya, lewat pesan singkat.

Lebih lanjut tim pengacara juga mengungkapkan penangkapan Surya Anta adalah kejadian keempat setelah penangkapan dua orang mahasiswa Papua pada Jumat (30/8) lalu di sebuah asrama di Depok, yang diklaim dilakukan dengan mendobrak pintu dan menodongkan pistol.

Penangkapan kedua dilakukan saat aksi solidaritas untuk Papua di depan Polda Metro Jaya pada Sabtu sore (31/8). Sedangkan penangkapan ketiga dilakukan oleh aparat gabungan (TNI dan Polri) terhadap 3 orang perempuan, pada Sabtu (31/8), di kontrakan mahasiswa asal Kabupaten Nduga di Jakarta.

"Penangkapan dilakukan tanpa surat izin penangkapan dari polisi. Aparat gabungan juga mengancam tidak boleh ambil video atau gambar, sementara mereka boleh mengambil gambar ataupun video. Aparat gabungan sempat memukul salah satu perempuan saat meronta," tertulis dalam siaran pers.

Atas sejumlah penangkapan tersebut, tim pengacara pun meminta polisi dan pihak berwajib untuk menghentikan penyisiran/sweeping, serta menyelesaikan konflik di Papua secara damai.

"Kami mendesak aparat keamanan, khususnya kepolisian dapat bertindak profesional dengan mengedepankan prinsip-prinsip HAM dalam menyikapi peristiwa yang terjadi. Kami menghkhawatirkan upaya berlebihan yang dilakukan kepolisian yang dapat memperburuk masalah terkait Papua yang yang tengah terjadi," tandasnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh