JAKARTA- Kementerian Kesehatan membantah adanya dugaan kasus penderita MERS‎ CoV (Corona Virus) di beberapa rumah sakit pada jamaah haji Indonesia yang baru pulang ke Indonesia. Namun menjelang pengiriman Umroh Jamaah Indonesia diminta berhati-hati dengan Corona Virus. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemenkes RI, Tjandra Yoga Aditama kepada Bergelora.com di Jakarta, Kamis (30/10).

 

“Saya sampaikan 29 Oktober malam ini hasil Lab Balitbangkes Kemenkes semua hasilnya negatif MERS CoV. Kita patut bersyukur bahwa sepanjang musim Haji 2014 tidak ada kasus MERS CoV dan Ebola,” tegasnya.

Hanya harus diingat menurutnya bahwa dalam waktu dekat ini masyarakat Indoneisa sudah akan berangkat untuk menjalankan ibadah Umroh. Karena itu kewaspadaan terhadap MERS CoV perlu diingatkan kembali.

“Saya ingatkan kembali demi kesehatan jemaah Umroh kita yang dalam setahun bisa ratusan ribu orang jumlahnya. Di Arab Saudi sampai akhir Oktober aada 772 kasus MERS CoV, 431 sembuh dan 329 meninggal (angka kematian 42,61 %), serta 12 orang masih dalam perawatan,” ujarnya.

Menurutnya setidaknya ada 4 hal yang "membandingkan" MERS CoV dibanding Ebola. Harus disadari bahwa ‎bagi orang asia maka risiko untuk mendapat MERS CoV lebih tinggi dari Ebola.

“Karena adanya direct flight dari Timur Tengah ke Indonesia, dan banyaknya WNI yang pergi ke Timur Tengah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, MERS CoV menular melalui udara. Jadi kalau di pesawat ada pasien MERS CoV yang batuk maka 2 kursi depan, belakang dan samping nya, dapat saja mungkin tertular.

“Sementara itu kalau Ebola maka penularan harus ada kontak langsung dengan cairan tubuh pasien,” ujarnya.

Menurutnya, sampai akhir Oktober ini MERS CoV sudah menyebar luas, yaitu di 12 negara Timur Tengah, 8 negara Eropa 2 negara Afrika, 1 negara Amerika, 2 negara Asia, Sementara Ebola sampai akhir Oktober ini ada di  7 negara Afrika, 2 sudah dinyatakan bebas. Satu orang penderita di Amerika dan satu orang penderita di Eropa. Angka kematian MERS CoV sekarang adalah juga sekitar 40%,  tidak terlalu jauh dari kematian Ebola yang hampir 50 %.

“Dalam menghadapi keberangkatan jemaah Umroh, maka mumpung masih ada waktu maka saya sangat menganjurkan agar para calon jamaah Umroh sekarang mulai memeriksakan ‎dirinya,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa data menunjukkan bahwa 60% - 70% pasien MERS CoV itu punya penyakit kronik sebelumnya, seperti DM, penyakit ginjal/jantung/paru kronik, hipertensi.

“Nah kalau diperiksa dari sekarang maka penyakit-penyakit itu dapat diobati lebih awal, dan risiko tertular MERS CoV menjadi jauh berkurang. Juga kembali diingatkan agar jamaah Umroh tidak kontak dengan Unta ketika di tanah suci kelak,” ujarnya. (Dian Dharma Tungga)